Apa Itu Islam?

Islam adalah ketundukan kepada Allah Swt. dan penyerahan terhadap seluruh perkara kepada-Nya. Artinya: Meneguhkan hubungan antara manusia dengan Tuhannya atas dasar “Al-sam’u wa Al-tha’ah” (Mendengar dan Taat).

Seseorang merasa terkadang bahwa tiada satu pun di dunia ini yang dapat mengendalikannya, ia melakukan apa saja yang disukainya tanpa bergantung pada aturan apapun. Perasaan ini dapat diterima dalam menentukan hubungan sesama manusia.

Namun, hubungan manusia dengan Tuhan yang menciptakannya dengan kekuasaan-Nya, Memeliharanya dengan limpahan nikmat-Nya, maka tidak ada ruang bagi pembelotan dan kecongkakan –di dalamnya-.

Dan, yang harus dilakukan oleh manusia adalah menjadikan dirinya tunduk kepada Kehendak Allah dan kepada utusan Allah yang menerima petunjuk-petunjuk dari atas, serta melihat perlunya mengikuti petunjuk-petunjuk tersebut. Allah SWT. Berfirman:

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“Dan barang siapa bersarah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul (tali) yang kokoh, Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.” (QS. Luqman [31]: 22).

Hubungan seperti apa yang mungkin terjadi antara Pencipta dan makhluk yang hidup di permukaan bumi kurang lebih puluhan tahun lamanya, kemudian akan kembali keharibaan Sang Pencipta? Apakah hubungan acuh tak acuh?apakah hubungan pembelotan atau ketundukkan?

Merupakan sesuatu yang wajar seorang manusia mengenal Tuhan yang Maha Besar ini, terikat dengan perintah dan larangan- Nya dan berjalan sesuai dengan petunjuk-Nya. Inilah Hakikat Islam; makna ini pula-lah yang ditetapkan oleh para Rasul. Allah SWT. Berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam…” (QS. Ali Imran [3]: 19)

Ketika seseorang mendeklarasikan ketundukannya kepada Allah, membuktikannya terhadap perintah-perintah-Nya dan kepasrahannya yang total terhadap Arah-Nya, sejatinya ia berinteraksi dengan seluruh alam semesta yang sujud kepada Tuhannya dan memuji keagungan-Nya.

apakah islam adalah agama khusus yang dibawa oleh nabi muhammad saw?

Sungguh keliru bagi orang-orang yang menganggap bahwa Islam adalah nama khusus bagi agama yang dibawa oleh Muhammad Saw. sejak 15 abad yang lalu. Islam adalah nama bagi seluruh risalah yang memberi petunjuk kepada umat manusia sejak awal sampai saat ini.

Nama ini disebutkan Al-Qur`an Al-Karim untuk semua perkara yang disampaikan oleh para Nabi Allah Swt. tanpa terkecuali.

Sesungguhnya “”Israel” (julukan yang mulia bagi Nabi Ya’qub As.) tidak lain adalah seorang Nabi yang menyeru kepada Islam, dan mewasiatkan kepada anak-anaknya untuk senantiasa berpegang teguh pendirian:

اَمۡ كُنۡتُمۡ شُهَدَآءَ اِذۡ حَضَرَ يَعۡقُوۡبَ الۡمَوۡتُۙ اِذۡ قَالَ لِبَنِيۡهِ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِىۡؕ قَالُوۡا نَعۡبُدُ اِلٰهَكَ وَاِلٰهَ اٰبَآٮِٕكَ اِبۡرٰهٖمَ وَاِسۡمٰعِيۡلَ وَاِسۡحٰقَ اِلٰهًا وَّاحِدًا ۖۚ

وَّنَحۡنُ لَهٗ مُسۡلِمُوۡنَ

“Apakah kalian menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’qub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kalian sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya’.” (QS. Al-Baqarah [2]: 133).

Realitanya, bahwa negara yang saat ini dinamakan”Israel” adalah sebuah nama tanpa wujud, dan simbol ilusi besar.

Dahulu, Nabi Isa mendidik para pengikutnya untuk tunduk kepada Allah dan menghamba dengan tulus kepada-Nya. Perhatikanlah ayat berikut ini:

وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى ٱلْحَوَارِيِّۦنَ أَنْ ءَامِنُواْ بِى وَبِرَسُولِى قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَٱشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Aku Ilhamkan kepada pengikut-pengikut Isa yang setia, Berimanlah kalian kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” mereka menjawab, ‘Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (Muslim)’.” (Qs. Al-Maidah [5]: 111).

Sifat “Islam” mencakup seluruh Nabi yang menerapkan hukum samawi sejak zaman Taurat sampai sekarang.

alasan apa untuk tidak menyerahkan dirinya kepada Dzat yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu?

Sedangkan ia memiliki Pendengaran dan Penglihatan, Membolak-balikkan siang dan malam, Meniupkan angin untuk proses perkawinan (penyerbukan), menghilangkan kesusahan dan Mengeluarkan orang-orang bingung dari kegelapan menuju cahaya, dan di dalam Al-Qur’an Al-Karim terdapat pengingkaran yang amat sangat serta kemarahan yang dahsyat kepada orang yang menisbahkan anak kepada Allah dan menjadikan hamba-hamba-Nya sebagai sekutu bagi-Nya:


قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ هُوَ الْغَنِيُّ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ إِنْ عِنْدَكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ بِهَذَا أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (68)
قُلْ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ (69)

“Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: ‘Allah mempuyai anak.’ Maha Suci Allah; Dialah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kalian tidak memiliki hujjah tentang ini. pantaskah kalian mengatakan terhadap allah yang tidak kalian ketahui? () Katakanlah: ‘Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap allah tidak beruntung’.” (QS. Yunus [10]: 68-69).

Setelah menetapkan hakikat “mengenal Allah dengan benar” ini, datanglah hakikat lain yang pondasinya adalah ketundukan total kepada Allah dan hanyut dalam ketaatan-Nya.

Apakah seorang muslim tidak akan jatuh pada kemaksiatan?

Tidak akan pernah bertemu antara kepasrahan diri kepada Allah dengan pembangkangan, atau ketundukan kepada-Nya dengan menolak perintah-Nya. Apakah itu berarti bahwa seorang Muslim tidak akan terjerumus ke dalam kemaksiatan? Yang benar adalah: jika seorang Muslim jatuh ke dalam kemaksiatan, maka hal itu datang secara tiba-tiba tanpa direncanakan, atau sebuah perbuatan yang mana pelakunya tergelincir ke dalamnya sementara ia sendiri membencinya atau tidak mengetahui keburukanya. Maka dari itu, ia berlepas diri dari perbuatan tersebut dengan penuh penyesalan dan rasa malu.

Sesungguhnya cahaya akal terkadang terhalang dan energi keteguhan hati pun terkadang habis, lalu saat itulah seseorang melakukan perbuatan yang tidak layak. Namun, orang tersebut keluar dari Islam karena perbuatannya:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raf [7]: 201).

Maka dari itu, Nabi Saw. menolak meminta diturunkannya laknat kepada peminum arak (khamar) yang kehendak dan kewibawaannya dikalahkan oleh kecanduannya.

Sesungguhnya peminum ini telah terperosok pada satu jenis kemaksiatan atau mengalami kondisi kegelisahan, berbeda dengan komunitas lain – memang sengaja – menanam anggur, lalu menyediakan mesin pemeras, membuka toko, mengatur pembagian dosa dan mewajibkan pajak atas perniagaan ini.

Perbedaannya sangat jauh antara orang yang menghalalkannya tanpa melihat hak Allah dan tidak menyadari bahwa perbuatannya merupakan suatu kejahatan, dengan orang “cacat” yang kekuatannya menurun sehingga terjatuh. Orang pertama adalah penjahat bukan Muslim, orang kedua adalah orang sakit yang diharapkan kesembuhannya dan tergolong ke dalam orang-orang Muslim.

Nabi Islam Muhammad Saw. telah mampu membentuk masyarakat yang berserah diri kepada Allah, bangkit untuk menegakan shalat sejak terbit fajar sampai malam gelap gulita dan pergi ke masjid secara rutin dan teliti yang mungkin dapat diatur dan disesuaikan dengan jam.

Sebagaimana umat ini juga berkomitmen dalam segala urusannya baik sipil, militer, budaya dan politik untuk mendapatkan Ridha Tuhannya dan berjalan sesuai kehendak-Nya dengan penuh antusias dan keikhlasan.

Panutan utama dan terakhirnya adalah seseorang (Rasulullah Saw.) yang secara total telah mendedikasikan dirinya untuk kebenaran dan mendengarkan -dari relung hati yang paling dalam- arahan Allah Swt. kepadanya:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163)

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am [6]: 162-163).

sesungguhnya ketundukan manusia kepada Tuhannya yang Maha Luhur itu merupakan kebenaran dan kemuliaan. Dan itulah hakikat Islam.

baca juga: Perbedaan Al-Qur’an, Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi

By Rasyid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *