Al-Qur’an Al-karim

Al-Qur’an Al-karim adalah Kalam Allah Swt. yang tercatat dalam mushaf yang mulia, menjadi sebuah mukjizat yang dengannya Allah menguatkan Nabi-Nya Muhammad Saw. dan Menantang orang-orang yang mendustakannya! Diriwayatkan secara Mutawatir, membacanya adalah ibadah, dan ia terjaga dari segala bentuk penyimpangan sampai akhir masa.

Mengkaji Al-Qur’an lebih didahulukan daripada mengkaji sunnah sebagaimana dalam riwayat Al-Harits Al-A’war.

عن الحارثِ قالَ مررتُ في المسجِدِ فإذا النَّاسُ يخوضونَ في الأحاديثِ فدخلتُ على عليٍّ فقلتُ يا أميرَ المؤمنينَ ألا ترى أنَّ النَّاسَ قد خاضوا في الأحاديثِ؟ قالَ وقد فعلوها؟! قلتُ نعَم قالَ أما إنِّي قد سمعتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يقولُ ألا إنَّها ستكونُ فتنةٌ . فقلتُ ما المخرَجُ منها يا رسولَ اللَّهِ؟ قالَ كتابُ اللَّهِ

Dari Al-Harits Al-A’war berkata: “aku berjalan melalui masjid dan orang-orang ketika itu sibuk mendalami Hadits-hadits, lalu aku datang menemui Ali Ra. dan memberitahukannya.” Lalu ia berkata: “Apa benar mereka melakukannya?” Aku jawab : “Iya.” Ia lalu berkata: “Adapun saya telah mendengar Raulullah Saw. Bersabda: ‘Nanti akan terjadi fitnah.’ Aku (Ali Ra.) bertanya: ‘Lalu apa jalan keluar darinya wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda: ‘Kitab allah Swt.’…”

Hadits Qudsi

Hadits Qudsi adalah Perkataan Allah Swt. yang tidak memiliki karakteristik Al-Qur’an. Dia bukanlah mukjizat dalam bahasanyadan tidak untuk menantang (untuk ditandingi), membaca Hadits juga tidak termasuk ibadah tilawah, sehingga tidak sah shalat dengan membacanya. Terakhir, dia tidak sampai kepada kita dengan cara tawatur yang qath’iy (pasti dan valid). Maka Hadits-hadits Qudsi ada yang shahih, Hasan, dan Dhaif, bahkan ada juga yang maudhu seperti Hadits:

عَبْدِي أَطِعْنِي تَكُنْ رَبَّانِيَّاً، تَقُولُ للشَّيْءِ كُنْ فَيَكُونُ

“Wahai hamba-Ku, taatilah Aku Jadikan kamu manusia rabani, kamu bisa berkata kepada sesuatu: ‘Jadilah’ Maka jadilah ia.”

Karena hadits ini tidak memiliki asal-usul!

Hadits nabawi

Hadits Nabawi adalah segala yang dinisbatkan kepada Rasulullah Saw. baik berupa perkataan, perbuatan, hukum atau ketetapan. Karena sejatinya Rasul yang mulia adalah imam umat ini, teladan baik yang bagi mereka, yang wajib ditaati oleh mereka, sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam kitab-Nya:

وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“…Dan taatlah kepad rasul, supaya kalian diberi rahmat.” (QS. Al-Nur [24]:56)

Sebagian orang tidak memahami maksud dari risalah Nabi dan kedudukan Rasulullah Saw. , serta menganggap bahwa Al-Qur’an saja cukup untuk menjadi petunjuk bagi manusia tanpa perlu penjelasan dari pemiliknya dan tanpa penerapan praktis yang menjelaskan apa yang diinginkan Allah dari hamba-hamba-Nya.

Faktanya, mengabaikan sunnah Nabi adalah kebodohan yang fatal akan kedudukan dari sosok terbesar dalam sejarah besar manusia.

Sesungguhnya Rasulullah adalah orang yang terpilih dan selalu terjaga dari kesalahan di setiap yang beliau sampaikan:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya” (QS. Al-Najm [53]: 3).

….والله أعلم بالصواب

baca juga: Mengapa islam dibangun diatas lima rukun?

By Rasyid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *